Telepon

0896-0880-0990

E-Mail

mahananimanjungan54119@gmail.com

Jam Buka

Senin - Kamis 07.00 WIB - 15.00 WIB & Jum'at 07.00 WIB - 11.30 WIB

Menampilkan: 1 - 9 dari 9 HASIL
Gotong Royong Kegiatan/Infromasi Manjungan Utama

Pemerintah Desa Manjungan Gelar Musyawarah Desa Khusus Guna Validasi Data Penerima BLT DD

Selasa, 19/05/2020, Pemerintah Desa Manjungan Gelar Musyawarah Desa Khusus (MUSDESSUS) guna validasi, finalisasi dan penetapan data penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari Dana Desa (DD) tahun 2020. selain itu musyawarah juga membahas tentang perubahan RKPDES dan APBDES 2020 …

Gotong Royong Manjungan

Betonisasi Jalan Dk. Manjungan Rt 13 Rw 05 Desa Manjungan

Minggu, 22 Juli 2018 Puluhan warga Dukuh ManjunganRt 13 Rw 05, Desa Manjungan Kecamatan Ngawen Kabupaten Klaten melakukan gotong royong membangun desa secara padat karya. Program padat karya ini merupakan mandat dari kepala desa agar terjalin hubungan secara harmonis antar sesama warga.

Dalam hal pelaksanaan pengerjaan betonsasi adalah guna memperbaiki jalan penghubung ke Makam yang sebelumnya telah rusak dengan menggunakan alokasi Dana Desa tahap II sebesar Rp 10 juta. Kegiatan ini melibatkan puluhan warga yang tinggal di wilayah Rt 13/05 dan diawasi oleh pemerintah Desa Manjungan.

Program padat karya ini merupakan realisasi dari amanah presiden RI Joko Widodo tentang pemanfaatan Dana Desa agar uangnya tidak keluar untuk gaji pekerja, sehingga bahan-bahan yang digunakan lebih berkualitas dan dapat dipertanggung jawabkan.

Kekompakan dan kebersamaan masyarakat dalam membangun desa adalah kunci uatamnya.Sehingga semua permasalahan bisa diselesaikan di tingkat desa dan tidak ke tingkat kecamatan.
Manjungan Utama

Lahan meditasi Calon Embung Desa Manjungan

Embung merupakan penampungan air irigasi. Asal air yang ditampung bisa dari air sungai atau hujan. Embung bisa dibangun di desa yang memiliki sungai dan tidak. Embung tidak untuk menampung air hujan saja. Embung mencegah banjir saat musim hujan dan mengatasi kekeringan saat kemarau.

Embung bisa dibangun di daerah dataran tinggi yang tidak dilalui aliran sungai. Air embung bisa berasal dari air hujan. Perbukitan yang dulu gersang bisa memiliki persediaan air. Perbukitan perdesaan yang biasanya gundul pada musim kemarau sehingga banyak tanaman mati karena kekurangan air, bisa bertahan dengan irigasi dari waduk mini tersebut.

Di desa manjungan sendiri terdapat potensi alam yang dapat dijadikan sebagai embung milik desa. meskipun belum ada kepastian perihal konsep pembuatannya, namun pemerintah desa sudah merencanakan anggaran dana untuk realisasi program tersebut. konsistensi pemerintah dibuktikan dengan kegiatana pengukuran lahan yang dimiliki dan penentuan bahan baku yang nantinya akan digunakan untuk membangun embung tersebut.

tujuan dari pembuatan embung desa adalah agar menjadi pilar dalam produksi pangan desa sehingga penduduk dekat dengan sumber makanan dan terhindar dari persoalan distribusi. Embung mendorong terciptanya swadaya pangan penduduk desa.

Embung juga bisa mendukung intensifikasi pertanian sehingga bisa meningkatkan frekuensi panen. Ini terutama tanaman padi dari setahun sekali menjadi dua atau tiga kali setahun. Kelipatan hasil pertanian akan bisa diwujudkan para petani desa dengan ketersediaan air.

Selain itu, penampungan air juga menopang diversifikasi pertanian. Peningkatan hasil pertanian melalui variasi jenis tanaman seperti pola tumpang sari. Sawah di Jawa bahkan disela-selanya dapat diselingi tanaman untuk ternak. Peningkatan hasil ternak akan menaikkan produksi protein hewani warga desa.

Dalam embung juga dapat disebar ikan untuk usaha perikanan yang diharapkan bisa mencegah kemungkinan perkembangan jentik nyamuk. Sementara, sekitar embung juga bisa dikembangkan kolam-kolam ikan menggunakan sistem pengairan berbasis.

selain itu nantinya embung juga bisa dimanfaatkan sebagai wanawisata untuk warga sekitar dan dijadikan tempat bersantai sore hari.

Kegiatan/Infromasi Manjungan Utama

Rapat Anggota Tahunan (RAT) tutup tahun buku 2017 GAPOKTAN “Mulyo Lestari” Manjungan

Manjungan – Gapoktan Mulyo Lestari, melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2017 bertempat di rumah Kepala Desa Manjungan Bp. Bambang Pramana Dewa, SS, Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, pada hari Selasa, 20 Februari  2018. Tujuan RAT sebagai pertanggungjawaban pengurus kepada anggota dalam menjalankan tugas. Bentuk pertanggungjawaban dituangkan dalam sebuah laporan serta untuk mengevaluasi dan menilai kinerja selama satu tahun kerja.

Rapat dihadiri oleh kepala dinas Pertanian kabupaten Klaten, Camat Ngawen, PPL, Perangkat desa, pengurus Gapoktan dan seluruh anggotanya. Pada kesempatan ini Gapoktan Mulyo Lestari juga mendapatkan berbagai masukan, saran serta motivasi dari pembina serta pemerintah setempat untuk perbaikan serta kemajuan Gapoktan dimasa yang akan datang.

Pada kesempatan ini, Ketua Gapoktan membacakan Laporan Keuangan Neraca Saldo Periode Januari – Desember 2017, serta Laporan Keuangan Neraca Saldo Tahun 2016 – 2017 (tertuang dalam laporan pertanggungjawaban Gapoktan Mulyo Lestari).

 

Manjungan

Peresmian Seni Gamelan Desa Manjungan

Minggu, 31 Desember 2017 Kepala Desa Manjungan meresmikan penggunaan seni Gamelan yang baru saja dihadirkan untuk seluruh warga desa Manjungan. Acara diselenggarakan di gedung kelas non aktif SD Manjungan dan dihadiri oleh seluruh elemen warga Desa Manjungan. Rencananya pengadaan alat …

Manjungan Potensi Desa

Bendungan Desa Manjungan

Bendungan (Mbalong) merupakan tanah milik kas desa yang berupa persawahan dan dataran rendah milik Desa manjungan yang semula dijadikan sebagai aliran irigasi persawahan milik warga dan sebagai bendungan penyimpanan air sementara. seiring bertambahnya tahun dan kurangnya perawatan dari pihak yang terkait bendungan tersebut mengalami pendangkalan dan tidak berfungsi sebagaimana awalnya. tanah seluas 6000 m2 rencananya akan dijadikan sebagai Embung Desa dan masih mengharapkan dana dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Manjungan Potensi Desa

Pengrajin Gamelan Dukuh Manjungan

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

Kemunculan gamelan didahului dengan budaya HinduBudha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.

Di Manjungan sendiri sudah ada warga yang mampu membuat dan menjual sendiri alat musik gamelan, pak Joko Sabeyan namanya. Ketrampilannya dal hal karya seni sudah meluas hingga pewayangan. tidak hanya itu, beliau juga menyalurkan bakatnya kepada anak dan warga sekitar yang mau belajar dan tertarik dengan kesenian jawa.

https://www.instagram.com/desamanjungan?utm_source=qr&igsh=ZjB3dXd1cm5tancy